Assalamualaiku wr.wb
Malam sahabat setiaku, yang tak pernah
bosan menerima cerita-ceritaku meskipun semua isinya galau, maafkan aku selalu bercerita
tentang keresahan jiwa, pokoknya aku cinta kamu dear.
Malam ini ada sebuah ketakutan yang
memuncak dalam hati, takut yang sangat takut ntahlah setakut apa dan selemah
apa keimananku malam ini. Hanya ketakutan untuk menyambut pagi hari dan
tingin terjaga untuk malam hari sebab rasa takut ini sangat menganjal
dalam jiwa. Jujur dengan suasana malam dan hembusan kipas angin serta lagu
mellow membuat air mata tak berhenti seolah bagaikan air mengalit dari mata.
Saat ini aku diposisi rapuh yang sangat rapuh dan kegalaua seperti sahabat yang
selalu mendorong diri mencari-cari celah untuk tak menerima takdirNya.
Nauzubillah minzalik dah kalau itu
sempat terjadi, tapi Allhamdulillah aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang
mencintaiMu lebih dari segalanya, dan aku selalu dinasehati untuk selalu
mengigatMu meskipun hanya dalam Zikir. “ Zikir diperbanyak unie, ingat
Allah tidak pernah memberi sesuatu tanpa kamu sanggup melaluinya, dan ingat
makna dari sedih ini, tentu kebahagian yang tertunda. Tetap semangat, tetaplah
menjadi dirimu yang dulu, dan mintalah kekuatan padaNya jika rapuh melanda
hatimu “, sahut semua teman-teman yang mencintaiku karnaMu ya Rabb.
Ingat kejadian 1 maret, yang membuat
sebagian dari jiwa ini ikut padamu Bunda, sedih menjadi kesatuan dan
mengikutimu adalah cita-citaku saat itu, sebab aku tak sanggup hidup tanpamu
Bunda, sahut hati yang begitu bergejolak. Waktu demi waktu berlalu Bunda,
banyak momen yang membuat jiwa ini kembali rapuh dan air mata jadi sahabat
terbaikku. Pertama saat ultahmu, itu hal terberat pertama tanpamu Bunda , trus
ultahku yang ke25 tahun dan disana air mata tak bisa kubendung selama beberapa
hari, musik ibu menemaniku di detik-detik hari bersejarahku dan esok harinya ku
temani dengan deraian air mata. Allahu Akbar, ingat itu sakit banget Bunda.
Tidak berhenti disana saja bunda rasa
sedih atas kehilanganmu, rasa itu semakin berat ketika ramadhan datang,
biasanya kita saling maaf-maafan dan memeluk dengan air mata serta ciuman
dipipi kiri kanan, tetapi ramadhan kali ini tidak ada ritual itu, rasa itu aku
salurkan pada nenek meskipun rasanya jauh berbeda. Ramadhan semakin berjalan,
hati semakin menangis sebab ketika Bunda hidup tak lupa dirimu memberi baju
lebaran untukku meskipun hanya satu lembar sebab aku anak satu-satunya.
Puncak terberatnya dimulai dari
beberapa hari menjelang lebaran, semua akan dimulai dari beresin rumah sampai
membantu nenek dan selama ini aku tak pernah membantu. Sedihnya bukan capek
tapi biasanya ada Bunda yang ikut serta dalam persiapan lebaran tapi kali ini
hanya aku dan nenek. Sayang keterbatasan aku untuk membantu nenek sebab selama
ini hanya dirimu yang bekerja bunda, pastinya ada ketakutan untuk memulainya.
Lebaran tiba, takbiran berkumandang
diseluruh negri dan setiap umat islam berangkat kemesjid untuk melaksanakan
Sholat Id, tetapi aku tidak karna takut untuk menanggis diwaktu aku mengenang
bersama Bunda dan kali pertama lebaran tanpa sang Ibu. Air mata pecah ketika
Tante Tini datang dan pelukan hangat itu Beliau kasih, dan sosok Bunda hadir
dan semua berurai air mata. Mama Nina dan Nek Anggah juga menghampiriku dan
memeluk serta menyemangatiku lagi meskipun air mata ini tak bisa berhenti. Ibu
amie datang dan aku kembali memeluknya dan mengatakan unie kangen Bunda, dan
ibu memeluk dengan erat dan membisikkan doakan bunda, bunda tetap ada dihati
unie, so jangan nangis dan yuk kita makan.
Oooh Tuhan, momen itu yang sangat aku
nanti meskipun bukan bunda yang memeluk tetapi mereka ibu juga untuk
kehidupanku. Bunda, unie ikhlas dan semoga bunda tenang disana. Semoga unie
serta nenek bisa melalui ini meskipun bagi kami ini berat. I Love U Mom. Hanya
doa, doa dan doa yang bisa unie beri untuk bunda sebab doa kado terindah untuk
bunda, #Al-Fatihah.
Sayang dan sayang beberapa hari ini aku paranoid untuk tidur dimalam
hari, bawaan takut akan apa yang terjadi keesokkan harinya. Lebih baik
bergadang ampe subuh dan siang merasa aman untuk tidur. Nggak, kematian tidak
melihat siang atau malam dan begitu selebihnya. Kematian itu pasti dan tidak
akan menunggu sebab kematian itu telah diberi Allah saat roh dihembuskan dari
rahim ibu. Bangkitlah dari paranoid dimalam hari, dan jadikan malam untuk
mengistirahatkan tubuh ini dan siang jadikan waktu yang tepat untuk
beraktifitas.
0 comments:
Post a Comment